Kesenian Jawa Purba Jadi Identitas Baru Perhelatan Seni Budaya di Purbalingga, Cek Detailnya

Kesenian Jawa Purba (KJP) yang digelar di Desa Sidareja, Purbalingga menjadi titik awal kebangkitan seni budaya di Sidareja. Perhelatan yang digelar selama 2 hari pada Sabtu sampai Minggu (20-21/8/2022) ini menampilkan beragam pertunjukan dan atraksi dari pelakon seni yang beraasal dari 21 kelompok rukun tetangga (RT).

Perhelatan dimulai dengan arak-arakan napak tilas ke sejumlah petilasan bersejarah di Purbalingga. Ada tiga tempat yang disambangi.

Pertama, petilasan Watu Peninisan. Tempat ini berkaitan dengan legenda Desa Sidareja. Tokoh bernama Kayu Wayang Raja Ingas dipercaya seorang sosok yang sering melakukan hening atau tapa di atas batu punden didekat sebuah sungai peninisan. Batu punden itu kini masih ada di pinggir sungai dengan bentuknya yang seperti meja altar .

Tempat kedua petilasan Watu Jaran yang merupakan petilasan dari Raden Sukma Wijaya salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro. Ia kalah perang dan bersembunyi di Desa Sidareja.

Dalam persembunyiannya, ia melakukan hening di atas baru bersoleh bersama dengan kuda yang selalu ditungganginya. Tidak hanya sosoknya yang dikatakan sakti, melainkan kuda itu juga dipercaya memiliki kesaktian.

Hal ini dibuktikan oleh seorang lurah yang berkuasa 39 tahun lamanya dan selalu menang dalam pertandingan kuda di kota Purbalingga.

Tempat yang ketiga adalah Makam Kiai Mbah Hasan Toyib, seorang tokoh yang menyebarkan agama Islam pertama kali di desa ini.

Tarian Kolosal Kemenangan Jawa Purba oleh Gianta Arum mengakhiri napak tilas yang diperindah dengan penampilan puluhan pemuda Sidareja.

Pasar Jawa Purba di Desa Sidareja menambah semarak acara dengan kehadiran 21 warung yang menjajakan makanan khas jawa purba. Pengunjung yang hadir dari Purbalingga, Semarang, Purwokerto, Jakarta, dan Bandung dengan mengenakan pakaian jawa sesuai dengan arahan panitia.

Menurut Slamet Santosa, tim artistik Malam Kesenian Jawa Purba, konsep pertunjukkan malam kesenian sengaja dibuat dramatis untuk memberi kesan sakral. Tari Ujungan yang memiliki nilai historis lahirnya Desa Sidareja diiringi lantunan lagu “ Amiwiti Pagelaran Kesenian Jawa Purba” yang dibawakan para tetua desa.

Pada bagian akhir pertunjukan seni kolosal 21 Jam dalam sesi kebinekaan dilantunkan puji-pujian hadrah dalam kolaborasi indah empat kelompok yang menandakan keberagaman dessa. Kolaborasi juga terlihat dari tiga kelompok seni kuda kepang yang kembali unjuk gigi.

Tak hanya seni pertunjukkan, pameran lukisan karya pemuda desa juga mewarnai perhelatan Kesenian Jawa Purba.

“Harapannya desa ini menjadi seni budaya yang kuat dan bisa bermanfaat menggerakkan perekonomian warga,” ujar Suminto, Kepala Desa Sidareja.

Baca Juga :

    Exit mobile version